Di Banggai Laut, Menteri Susi Tinjau Potensi Pantai Oyama dan Desa Dungkean

100
dok,humas KKP / Regina Safri

KKPNews, Banggai Laut – Dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Selasa (15/5), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyambangi beberapa pulau kecil untuk menyapa masyarakat dan melihat potensi kelautan dan perikanan di sana. Hari itu ia mengunjungi setidaknya dua pulau yang dapat ditempuh selama 1-2 jam perjalanan dari pusat Banggai Laut dengan menggunakan speed boat.

Seusai melakukan dialog dengan masyarakat di Desa Bone Baru, Menteri Susi mengunjungi Pantai Oyama di sebuah pulau kecil yang kecantikannya tidak kalah dengan Raja Ampat, Papua. Melihat hamparan pasir putih dengan air biru nan jernih dan pemandangan alam yang terhampar indah, usai menyapa warga sekitar, Menteri Susi tak dapat menahan diri untuk segera berenang.

Aktivitas Menteri Susi di sana mengundang kerumunan warga. Masyarakat sekitar yang didominasi anak-anak berbondong-bondong turun ke air dan berenang dengan gembira.

Tak cukup hanya berenang, Menteri Susi juga memacu paddle boardnya untuk mengamati keindahan Pantai Oyama lebih ke tengah. Tak hanya itu, dari paddle boardnya Menteri Susi juga menyapa beberapa nelayan yang tengah menaiki perahu kayunya.

“Bapak-bapak, laut yang Bapak-bapak punya (Pantai Oyama) sangat indah. Jangan dirusak. Jangan menangkap ikan pakai bom atau portas. Nanti lautnya rusak dan ikannya habis,” ungkap Menteri Susi.

Menteri Susi juga menjanjikan bantuan kapal penangkap ikan viber bagi nelayan jika mereka berjanji tidak akan menangkap ikan dengan cara yang merusak. “Nanti saya kasih bantuan kapal. Tapi janji jangan pakai bom, portas, atau bius. Nanti bapak-bapak bikin kelompok, satu kelompok 2-3 orang nanti kita kasih bantuan kapal,” lanjutnya disambut dengan tepuk tangan nelayan.

Pantai Oyama memiliki potensi kelautan yang begitu besarnya. Oleh karena itu, Menteri Susi meminta warga sekitar untuk menjaganya dengan tidak melakukan destructive fishing dan tidak membuang sampah ke laut.

Selain Pantai Oyama, hari itu Menteri Susi juga mengunjungi Desa Dungkean, Kecamatan Bangkurung yang ditempati oleh masyarakat transmigran. Di sana menteri Susi juga meninjau potensi perikanan. Warga di sana memiliki cara menangkap ikan yang unik yaitu dengan sero tancap yang dilingkup dengan jaring karamba.

Alkap, Nelayan Desa Dungkean mengatakan, kayu tahan air ditancapkan sekitar 200 – 300 meter dari bibir pantai. Kayu tersebut kemudian dipasang jaring karamba, dan dibiarkan selama sekitar 7 bulan. Ikan kemudian akan masuk atau terperangkap dengan sendirinya.

“Ikan yang terjebak di sana kita ambil setiap hari sampai (sero) rusak. Biasanya tahan selama 7 bulan. Tapi kalau ada ombak besar, alatnya kita gulung lagi,” cerita Alkap.

Dengan menggunakan sero tancap, ditangkap berbagai jenis ikan seperti malalugis, baronang, cumi, tuna, rumah-rumah, cakalang, deho, bubara, dan sebagainya.

Alkap bercerita, satu alat ini biasanya dimiliki oleh 5 orang yang umumnya masih memiliki hubungan keluarga. Hasil penangkapan ikan dikumpulkan dan dibagi hingga alat tersebut rusak.

“Cara bagi hasil ditunggu sampai banyak dan dibagi rata. Dalam tujuh bulan itu, nelayan bisa menghasilkan Rp30 – 40 juta,” tutur Alkap.

Tak hanya menggunakan sero tancap, menurut Alkap masyarakat sekitar juga menangkap ikan menggunakan pancing dan bubu. “Di sini tidak ada yang pakai trawl, tidak ada yang pakai bom dan bius. Pembiusan dan bom dapat merusak ekosistem laut,” lanjut Alkap. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments