Dengan Inisiatif Signing Blue, WWF Indonesia Dukung Pariwisata Bahari

320

Kepariwisataan bahari di Indonesia berkembang sangat pesat sebagai kegiatan dengan minat khusus pada bahari. Tanpa kita sadari, dalam setiap kegiatan pariwisata berpeluang untuk menimbulkan dampak negatif, antara lain kenaikan volume sampah, polusi, kerusakan terumbu karang, stres pada spesies, dan konflik kepemilikan lahan.

Pariwisata bahari yang bertanggung jawab (Responsible Marine Tourism) merupakan konsep yang mendorong setiap wisatawan dan pelaku kepariwisataan untuk menimbang, mencermati, berkomitmen, serta mengambil langkah nyata mengurangi jejak-jejak negatif aktivitas kepariwisataan bahari yang dilakukannya dengan tujuan untuk mendukung gerakan konservasi di Indonesia.

“Hal yang mendasari praktek pariwisata bahari yang bertanggung jawab ini adalah dengan menempatkan prinsip keseimbangan dalam pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan bisnis, dan kesetaraan manfaat bagi masyarakat lokal,” ujar CEO WWF-Indonesia, Efransjah, pada acara Peluncuran Blue Planet Report & Penandatanganan WWF Signing Blue di HOTEL Le Meridien, Jakarta, Rabu (16/9).

Untuk mendukung kegiatan pariwisata bahari yang bertanggung jawab (Responsible Marine Tourism), WWF Indonesia melakukan inisiatif Signing Blue. Dengan inisiatif Signing Blue, WWF-Indonesia berupaya melestarikan potensi kelautan Indonesia yang telah rusak agar tidak bertambah parah, sekaligus mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian bahari Indonesia.

Kegiatan ini melibatkan para pelaku kepariwisataa  mulai dari wisatawan dan penyedia layanan pariwisata untuk menerapkan pariwisata bahari yang mendukung gerakan konservasi di Indonesia. Tiga organisasi besar dalam wadah kegiatan pariwisata mendukung awal pengembangan inisiatif Signing Blue ini, yaitu PATA Indonesia Chapter, Triptus, dan Wallacea.

CEO & President PATA Indonesia Chapter, Poernomo Siswoprasetijo mengatakan contoh nyata dari kepedulian PATA terhadap laut dan kawasan konservasi alam dapat dilihat di KEK Tanjung Lesung. Menurutnya, Sejak 20 tahun lalu di Tanjung Lesung telah dilakukan konsep pengembangan terintegrasi, advokasi dan menarik masyarakat sekitar untuk melakukan budidaya ikan dan penanaman terumbu karang. Sekolah-sekolah di sekitar kawasan pun diajarkan mengenai pengelolaan laut agar suistanable dan mengelola alam agar tetap terjaga.

“Kami Menyambut baik program Shining Blue dan mendukung agar seluruh elemen pariwisata dapat menerapkannya, untuk masa depan pariwisata bahari Indonesia yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, mindset pelaku pariwisata dan masyarakat harus sama tentang bagaimana pentingnya laut untuk Indonesia, terutama di bidang tourism.

“Masa kita jual laut tapi tidak bisa jual seafood yang enak, nelayan kita tidak sejahtera. Maka dari itu kita harus mendorong semua sektor agar lebih peduli dengan kekayaan laut indonesia,” pungkasnya.

Pada acara tersebut turut hadir Staf Ahli Menteri bidang Ekonomi Sosial dan Budaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Suseno Sukoyono dan Vice Chairman of The Excecutive Board WWF-Indonesia, Arief Surowidjojo.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments