Cakupan Asuransi Pembudidaya Ikan Diperluas

81
dok.humas djpb

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB) mulai memperluas cakupan asuransi bagi pembudidaya ikan kecil. Dari semula diperuntukan bagi usaha budidaya udang, saat ini diperluas untuk mencover usaha pembudidayaan ikan lainnya yakni nila, patin dan bandeng.

Dengan diperluasnya cakupan jenis usaha yang dapat dicover asuransi ini, diharapkan akan mampu menjamin kebersinambungan usaha budidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengemukakan asuransi ini sebagai bentuk keberpihakan pemerintah dalam upaya memberikan perlindungan usaha terhadap risiko kegagalan usaha yang dialami pembudidaya skala kecil. Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjalankan amanat UU No 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan Kecil, dan Petambak Garam.

“Pemerintah untuk tahap awal ini masih memberikan bantuan premi, masing-masing untuk budidaya udang senilai Rp450.000 per tahun dan usaha lainnya Rp150.000 per tahun. Ini sebenarnya upaya pemerintah untuk menstimulan. Ke depan diharapkan pembudidaya bisa mengkases secara mandiri. Pada kesempatan ini, kami juga kami sampaikan terima kasih kepada komisi IV DPR RI yang telah mendorong keluarnya undang-undang ini. Ini tentu jadi titik awal yang positif dalam melakukan langkah konkrit dalam melindungi usaha budidaya agar berkesinambungan,” ujar Slamet di Sulawesi Selatan pada Rabu (4/9).

Anggota Komisi IV DPR RI Nasit Umar mengatakan bahwa DPR selalu mendukung upaya pemerintah dalam mendorong perikanan budidaya ini. Ke depan DPR akan mengusulkan anggaran untuk budidaya ini diperbanyak.

“Sebagai orang asli Sulawesi Selatan, secara pribadi saya menyampaikan apresiasi kepada KKP atas berbagai dukungan di bidang budidaya. Oleh karenanya, saya berharap ada peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan. Apalagi program asuransi pembudidaya ikan kecil menjadi langkah strategis. Ini menjadi bukti nyata keberpihakan pemerintah dan DPR dalam melindungi dan memberdayakan para pembudidaya,” ungkap Nasit.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Sulkaf Latief menyampaikan bahwa Sulawesi Selatan merupakan penyumbang terbesar produksi perikanan budidaya nasional. Menurutnya, berbagai dukungan terutama program asuransi ini diharapkan dapat mendorong pembudidaya ikan semakin berdaya.

“Produk perikanan budidaya apapun ada di Sulawesi Selatan. Dukungan program asuransi sangat tepat. Nah, dengan adanya kartu KUSUKA yang bapak terima, maka bapak bapak semua akan menjadi priotitas utama dalam mengkses program asuransi dari pemerintah,” tegas Sulkaf.

Senada dengan hal tersebut, Bupati Takakar, Syamsari, mengungkapkan bahwa Pemda punya komitmen menjadikan perikanan budidaya ini sebagai penggerak ekonomi daerah. Menurutnya Kabupaten Takalar merupakan sentra budidaya terbesar di Sulawesi Selatan khususnya untuk rumput laut. Dirinya juga mengapresiasi berbagai dukungan KKP yang banyak dialokasikan di Kabupaten Takalar dan secara nyata memberikan dampak bagi pengembangan usaha budidaya yang ada.

“Kami sudah lakukan MoU dengan BPBAP Takalar, bahwa nanti produk budidaya harus bisa terserap di Takalar. Di samping itu, kami telah menarik investor untuk mengembangkan cold storage, dalam jangka pendek juga kami akan tarik industri pengolah rumput laut ke Takalar.

Sebagaimana diketahui, tahun 2017 pemerintah telah memberikan dukungan premi asuransi perikanan untuk total lahan tambak udang seluas 3.300 Hektar, yang tersebar di 14 provinsi dan 37 kabupaten/kota, dengan jumlah pembudidaya yang terlindungi sebanyak 2.004 orang.

Sedangkan, pada tahun 2018 ini, bukan hanya untuk komoditas udang tetapi lebih luas juga untuk komoditas bandeng, nila, dan patin, mengingat komoditas-komoditas tersebut merupakan komoditas unggulan. Tahun ini lahan yang akan terlindungi seluas 5.000 Ha, lebih luas dibanding tahun 2017 yang hanya 3,300 Ha. Pertambahan luasan ini sekaligus dapat melindungi lebih banyak usaha pembudidaya ikan. (humas_djpb/MD)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments