Budidayakan Kepiting Bakau, Menteri Susi Imbau Masyarakat Jangan Habiskan Induk di Alam

169
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memantau budidaya pembesaran kepiting dengan menggunakan sistem crab ball. Dok. Humas KKP/Handika Rizki R

KKPNews, Mimika – Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomi tinggi. Akan tetapi, penangkapan dan eksploitasi terus menerus dikhawatirkan dapat mengancam keberadaannya di alam. Oleh karena itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengimbau warga suku Kamoro di wilayah pesisir Kabupaten Mimika, Provinsi Papua untuk menjaga keberlanjutan ekosistem kepiting bakau yang dalam bahasa lokal disebut sebagai karaka.

“Harus dipastikan bahwa kepiting-kepiting yang bertelur tidak diambil. Saya lihat di Australia itu yang betina tidak diambil sehingga jumlahnya makin banyak di alam. Saya mohon dengan sangat agar bibit di alam di jaga keberadaannya,” ungkap Menteri Susi saat memberikan sambutan pada acara Peluncuran Program Budidaya Kepiting Sistem Crab Ball di Area Jembatan 1 Mil 10, Kawasan Porsite Amamapare, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua, Selasa (20/3).

Program budidaya kepiting bakau sistem crab ball ini merupakan program kemitraan antara Dinas Perikanan Kabupaten Mimika, PT Freeport Indonesia, dan Yayasan Crab Ball Mangrove Indonesia. Cara ini dianggap solusi pengembangan ekonomi masyarakat di tengah adanya Peraturan Menteri (Permen KP) Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kepiting bertelur dan kepiting anakan memang dilarang ditangkap berdasarkan peraturan tersebut. Oleh karena itu, masyarakat didorong untuk mengembangkan ekonomi berbasis kearifan lokal dengan konsep 3S, yaitu Sungai, Sampan, dan Sagu.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden Direktur Eksekutif Bidang Pembangunan Berkelanjutan PT Freeport Indonesia Sony Prasetyo mengatakan, selama ini cara yang banyak digunakan masyarakat suku Kamoro untuk mengolah sumber daya alam adalah dengan meramu, mencari, dan menangkap. Hal ini yang mendorong munculnya cara pengelolaan yang memberikan nilai tambah lebih yaitu dengan sistem crab ball.

“Salah satu kekayaan yang banyak ditangkap adalah kepiting bakau. Banyak dikirim ke Jakarta. Namun, masyarakat yang mengembangkan budaya meramu dalam menangkap kepiting hanya sedikit memberikan kontribusi dalam perkembangan ekonomi. Masyarakat perlu didorong untuk merubah diri dari masyarakat peramu menjadi masyarakat pembudidaya, menuju masyarakat pedagang, masyarakat industri, hingga masyarakat ekonomi kreatif,” papar Sony.

Penguatan kearifan lokal pengelolaan kepiting bakau ini, selain berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat juga dapat menjaga kelestarian satwa endemik di Mimika.

Dalam pengembangan budidaya sistem crab ball, masyarakat cukup memanfaatkan lahan mangrove sebagai habitat kepiting. Kepiting-kepiting dimasukkan ke dalam alat yang bernama crab ball untuk kemudian diletakkan atau dikaitkan pada pohon mangrove. Sistem sederhana ini sangat cocok untuk nelayan/pembudidaya bermodal kecil karena sangat ekonomis.

Sistem budidaya ini juga sangat ramah lingkungan karena tidak merusak ekosistem pesisir pantai. Jika suatu saat terjadi bencana, kepiting juga dapat dengan mudah dievakuasi. Waktu panen dapat dilakukan dalam jangka waktu 2,5 – 3 bulan. Demikian diungkapkan Konsultan Crab dari Yayasan Crab Ball Mangrove Indonesia Slamet Riyadi.

Menteri Susi menyambut baik program budidaya pembesaran kepiting bakau dengan sistem crab ball yang memberdayakan masyarakat suku Kamoro di lima Desa Daskam di wilayah dataran rendah Mimika tersebut.

“Apa yang dilakukan ini sangat baik. Namun yang perlu dijaga yaitu tidak mengambil kepiting yang sedang bertelur sehingga jumlahnya lebih banyak lagi di alam. Kalau bisa yang dibudidayakan yang jantan saja, sedangkan yang betinanya tetap di perairan agar berkembang biak,” pesan Menteri Susi saat menyaksikan langsung kegiatan pembudidayaan kepiting bakau dengan sistem crab ball.

“Kebanyakan kita selalu berpikir budidaya itu mengambil bibit dari alam. Kita lupa bahwa plasmanutfah yang ada di alam itu juga harus dijaga,” imbuhnya.

Menteri Susi khawatir, kejadian punahnya ikan sidat di Pulau Jawa atau lobster di beberapa wilayah lainnya kembali terjadi pada komoditas kepiting di Papua akibat perburuan bibit secara massif di alam.

“Kita harus ingat, tidak ada anak maka tidak ada bibit. Tidak ada bibit maka tidak akan ada anak. Kalau mata rantai ini diputus maka suatu hari nanti akan habis. Jangan sampai dengan budidaya kita ambil sebanyak-banyaknya untuk kita besarkan lalu tidak meninggalkan induk-induknya di alam,” tandasnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments