BKIPM Jogjakarta Lepas 31 Ribu Bibit Lobster

80

KKPNews, Jogjakarta – Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jogjakarta melakukan pelepasan bibit lobster di Pantai Drini pada April ini. Jumlah bibit lobster yang dilepas sebanyak 31 ribu. Kepala BKIPM Jogjakarta Suprayogi mengatakan, pelepasan ini dilakukan untuk menjaga keberadaan komoditas lobster di Jogjakarta.

“Pelepasan bibit lobster dilakukan sebagai upaya agar keberadaan lobster di pantai selatan yang menjadi wilayah BKIPM tetap terjaga,” ujar Kepala BKIPM Jogjakarta Suprayogi di kantornya, Selasa (2/5).

Lebih lanjut ia menambahkan, selain pelepasan bibit lobster, BKIPM juga melakukan beberapa agenda yang menjadi bagian dari Bulan Bakti Karantina dan Mutu Hasil Perikanan yang tahun ini mengambil tema Gema Satu Kata (Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina). Adapun kegiatan lain yang diagendakan adalah lomba mewarnai yang diadakan di Gunungkidul dan Kulonprogo. Di Gunungkidul diikuti 200 anak dan 100 anak TK di Kulonprogo.

“Juga ada penanaman mangrove, yang akan dilakukan di Bantul dan Cilacap, penyerahan sembako pada yang berhak, kegiatan CRS lainnya, termasuk uji formalin di pasar, menyediakan angkringan gratis sebagai bagian dari pekan pelayanan publik,” lanjutnya.

Selama pekan pelayanan publik, karyawan BKIPM Jogjakarta diharuskan mengenakan pakaian tradisional. Di depan kantor, juga digelar pagelaran wayang kulit singkat, bercerita mengenai kisah Petruk, ksatria yang rela menjadi pelayan masyarakat. Tidak lupa, secara bergantian akan disiapkan jamu gendong yang juga gratis bagi masyarakat.

Berbagai kegiatan itu untuk mendorong masyarakat lebih sadar akan memanfaat jasa layanan BKIPM dalam menguji berbagai jenis perikanan. Seperti diketahui, jenis perikanan diwajibkan untuk dilakukan uji sebelum dikirim ke luar DIJ maupun yang masuk ke Jogjakarta. Ini berlaku bagi semua produk yang melalui jalur darat dan udara.

Sebelumnya, BKIPM Jogjakarta telah melakukan uji terhadap 35 sampel di Pasar Beringharjo. Dari jumlah tersebut, 10 persen masih mengandung formalin atau bahan pengawet makanan. Kandungan formalin ditemukan untuk jenis ikan kering. Yakni, ikan teri nasi atau teri kecil.

Pengujian dilakukan dengan mengambil sampel dari para pedagang yang berjualan di sentra penjualan ikan dan produk ikan di lantai satu sayap timur, Pasar Beringharjo. Selain pengambilan sampel oleh petugas, sejumlah pedagang dengan kesadaran sendiri menyerahkan sampel dagangan mereka untuk diuji.

“Hasil uji ini adalah sampling. Artinya tidak bisa dijadikan patokan bahwa ikan kering di Beringharjo semuanya mengandung formalin. Dengan temuan ini, kewaspadaan pedagang maupun konsumen perlu ditingkatkan,” papar Yogi.

Uji formalin ini merupakan bagian dari kegiatan Bulan Bakti BKIPM 2017. Kegiatan ini rutin dilakukan, untuk memonitor tingkat kelayakan dan kesehatan ikan dan produk perikanan di pasar tradisional. Kegiatan ini dilakukan rutin setiap tahun. (MD)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments