Apresiasi OOC 2018, Empat Negara Dorong Lebih Banyak Aksi Nyata

23
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama berbagai perwakilan dan petinggi negara saat menghadiri pembukaan Our Ocean Conference 2018, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Senin (29/10). Dok. Handika Rizki

KKPNews, Nusa Dua, Bali – Our Ocean Conference (OOC) 2018 yang berlangsung pada 29-30 Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali, mampu mendorong dan menghasilkan berbagai komitmen positif dari berbagai negara dalam upaya mendukung perlindungan laut. Hal ini tercermin dari perspektif yang disampaikan oleh delegasi tinggi dari beberapa Negara peserta konferensi di Plenary Hall Session, OOC 2018.

“Hari ini kita bersama-sama melakukan aksi untuk kepentingan laut,” ujar H.E Karmenu Vella, European Commissioner for Environment, Maritime Affairs and Fisheries. “Persamaan pandangan yang kita mulai pada 2014, kini sudah menjadi aksi global, mereka yang berkomitmen terus memegang janjinya.”

Di OOC 2018 ini, menurut Vella, Uni Eropa kembali menegaskan 50 komitmen yang memiliki nilai lebih dari 550 juta Euro yang untuk program-program yang mendorong perlindungan laut. Seperti penanganan sampah plastik, pambangunan Blue Economy yang lebih berkelanjutan serta untuk peningkatan kegiatan riset dan pengawasan laut.

“Saat OOC 2015 kami pernah berjanji untuk mengalokasi 10 persen dari luas laut kami sebagai kawasan dilindungi,” kata Vella. “Kini janji tersebut telah kami penuhi dimana 10,8 persen dari luas perairan kita sudah terlindungi.”

Hal senada diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Norwegia, H.E. Ine Eriksen Soreide. Menurutnya, aksi global untuk melindungi laut semakin mengalami kemajuan. “Ekonomi laut bisa melipatkan gandakan kontribusinya terhadap ekonomi global di tahun 2030,” tuturnya. “Namun, kekayaan laut juga sanbat bergantung pada kondisi kesehatan laut, menjamin pengelolaan laut yang berkelanjutan menjadi persoalan hidup dan mati.”

Menurutnya, saat ini 3 dari 10 stok ikan komersial di laut sudah dieksploitasi secara berlebihan. “Sudah menjadi tanggung jawab kita untuk membalikan trend ini,” tegasnya. “Apalagi lebih dari 2/3 pendapatan ekspor dihasilkan dari aktivitas di laut dan pantai.”

Menurut Soreide, masih banyak hal yang bisa dilakukan. “Polusi laut akan tetap menjadi masalah sampai semua negara bertindak mengatasi itu, kawasan konservasi laut bisa menyediakan baik konservasi maupun pendanaan ekonomi.”Itu semua membutuhkan insentif, mari kita jadikan OOC 2018 sebagai sebuah kesuksesan.”

“Konferensi ini tak sekedar berbicara namun harus beraksi,” tegas John Kerry, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. “Fokus perhatian kita adalah menyatukan upaya kita bersama dalam melindungi laut.”

Menurutnya gagasan hanya dari satu negara tak menjadi cara untuk melindungi laut namun bisa menjadi cara berbagi tanggung jawab antar semua negara. “Ini merupakan sebuah pilihan kebijakan, dasar bagi miliaran orang di seluruh dunia, ini semua tentang generasi di masa datang,” kata Kerry.

“Illegal fishing masih menjadi ancaman besar bagi dunia dan ini masih terus berlangsung tanpa teratasi,” jelasnya. “Kita tidak akan bisa melindungi laut jika kita tak bisa menunjukan bagaimana cara melakukannya dengan benar. Kita tak bisa melindungi laut jika kita tak mampu mengatasi perubahan iklim, waktu terus berjalan.”

Dukungan untuk Negara Pulau
Blue economy dan upaya perlindungan laut bagi Negara-negara pulau kecil seperti Republik Nauru sangat berarti. Negara kepulauan di Pasifik Selatan ini hanya memiliki luas daratan 21 kilometer persegi dengan jumlah penduduk tak lebih dari 10.804 jiwa saja.

“Bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh Negara sekecil kami?” ujar H.E. Baron Waqa, Presiden of Nauru. Nauru tak memiliki sumber daya alam mumpuni yang bisa ditawarkan ke investor, mereka juga tak memiliki akses pasar yang memadai. “Untuk warga kami, laut merupakan satu-satunya cara untuk bertahan hidup.”

Ia mengaku sangat berterima kasih kepada negara-negara di Pasifik yang mau berjuang untuk membangun blue economy. Bagi Nauru sendiri, Blue Economy memiliki tiga arti penting. Yaitu mendukung pembangunan di Negara kepulauan kecil, membangkitkan stok perikanan, dan mempersiapkan peningkatan pengembangan gas rumah kaca.

Nauru sangat berharap tiga pilar tersebut diwujudkan oleh The United Nations Conference on Sustainable Development (UNCSD) atau Rio+20, sebuah Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan. “Masih banyak pekerjaan penting yang harus kita selesaikan, kita semua harus melindungi dan menjaga laut,” kata Waqa.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments