Akuakultur Tawarkan Solusi Krisis Air dan Pangan

125

KKPNews, Jakarta – Preferensi masyarakat global terhadap bahan pangan berbasis ikan semakin meningkat tajam. Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi hingga tahun 2030 kebutuhan dunia akan ikan mencapai 172 juta ton, di mana sekitar 58 persen akan bergantung pada produk akuakultur.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, baru-baru ini menjelaskan bahwa strategi untuk mendorong suplai ikan konsumsi harus menggunakan inovasi teknologi yang mengedepankan prinsip eko-efesiensi yakni mendorong produktivitas dengan mengandalkan input sumberdaya yang efisien. Ia menekankan makna efisien tersebut yakni terkait penggunaan sumberdaya air dan lahan.

“Tantangan besar akuakultur adalah bagaimana meningkatkan produktivitas untuk suplai pangan, namun dengan penggunaan sumber air dan lahan yang lebih efisien. Penggunaan air tanah yang berlebihan akan mengancam ketersediaan air dan pasti akan timbul konflik. Olleh karenanya usaha budidaya ikan yang dilakukan di darat akan didorong dengan memanfaatkan sumber daya air terbatas, atau bahkan dengan teknologi kita bisa tekan tanpa ada pergantian air sama sekali. Dalam akuakultur ini sangat mungkin dan telah dibuktikan,” jelasnya.

Slamet lantas membeberkan berbagai keberhadilan inovasi teknologi tersebut antara lain pengembangan budidaya ikan dengan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS), pengembangan bio-filtration system, pengembangan budidaya lele sistem bioflok, dan penerapan sistem resirkulasi tertutup (closed recirculation system).

Penerapan sistem RAS telah terbukti mampu mengefesiensikan penggunaan air hingga lebih 80% persen, namun menghasilkan output produktivitas ikan hingga 100 kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional.

Bio-filtration system saat ini telah mulai berkembang diterapkan dalam kegiatan akuakultur. Sistem filtrasi yang efektif akan menghasilkan kualitas air yang stabil dan memicu penggunaan air yang efisien bahkan bisa ditekan dengan tanpa dilakukan pergantian air.

Inovasi yang saat ini telah memasyarakat yakni penerapan budidaya intensif lele sistem bioflok. Sistem ini mampu menghemat penggunaan air hingga lebih 80 persen, output limbah budidaya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai tambah yakni diintegrasikan dengan sistem aquaponik. Sistem ini juga mampu menggenjot produktivitas ikan hingga 10 kali lipat dibanding konvensional.

Begitupun dengan closed recirculation system pada budidaya di tambak telah secara nyata mampu menekan penggunaam air khususnya penggunaan air tawar.

Kesemua teknologi di atas, menurut Slamet sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan global ke depan khususnya terkait bagaimana mencukupi kebutuhan pangan ditengah krisis ekologi utamanya keterbatasan sumberdaya air.

“Paradigma pengelolaan akuakultur ke depan yakni mulai bijak dalam berfikir bahwa alam memiliki keterbatasan optimum dalam mensupport kehidupan, sehingga pengelolaan harus dilakukan secara bertanggung jawab,” tandas Slamet.

Ulasan beberapa pakar di dunia yang menyatakan bahwa pengembangan akuakuktur akan memicu konflik berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya air, akan terpatahkan melalui upaya di atas. Melalui penerapan inovasi teknologi dan penerapan produksi bersih dalam proses budidaya, tantangan besar terkait krisis air dan ketahanan pangan mampu dihadapi dengan baik.

Pada akhirnya, peringatan hari air sedunia diharapkan akan menjadi momentum penting untuk mendorong pengelolaan sistem produksi akuakultur secara efisien.

Berbagai inovasi teknologi akuakuktur yang telah terbukti efektif diterapkan diharapkan mampu diadopsi secara massal oleh masyarakat dan pelaku industri akuakultur di Indonesia. Dengan demikian akuakultur justru hadir dalam memberikan solusi masa depan yakni mencukupi kebutuhan pangan tanpa mengorbankan nilai penting air sebagai penopang kehidupan. (Humas DJPB/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments