Bernilai Ekonomi Tinggi, KKP Kembangkan Budidaya Ikan Nemo

58
Clown fish atau ikan nemo.

KKPNews, Jakarta – Terobosan inovasi teknologi di bidang perikanan budidaya kembali dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) guna pengembangan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi. Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menyatakan, KKP saat ini tengah melakukan terobosan-terobosan untuk memberikan dampak positif bagi geliat bisnis ikan hias nasional.

Slamet meyakini, berbagai macam varian dan corak ikan hias yang menarik mampu menggairahkan pasar. Hal ini karena ikan hias yang unik sangat berkaitan dengan hobi di mana preferensi konsumen sangat bergantung pada nilai estetika dari jenis ikan hias tersebut.

“Saya rasa, semakin banyak varian jenis yang dihasilkan, peluang permintaan pasar akan naik signifikan. Ini juga jadi kekuatan kita untuk mampu bersaing dalam perdagangan ikan hias dunia. Kalau bicara SDA dan potensi ikan hias Indonesia, kita punya daya saing komparatif yang tinggi. Ini harus kita manfaatkan untuk tingkatkan daya saing kompetitif di level global,” ungkap Slamet di Jakarta, Selasa (29/5).

Guna mengembangkan potensi ini, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon berhasil mengembangkan 14 varian jenis ikan hias laut Clownfish atau lebih dikenal dengan ikan nemo.Pengembangan ini dilakukan melalui teknik kawin silang (cross breeding). Dari perkawinan silang berbagai jenis induk di alam, dihasilkan ragam corak ikan yang indah dan diminati pasar. Masing-masing juga memiliki tingkatan nilai jual, sesuai dengan permintaan pasar.

Bukan rahasia umum lagi jika ikan hias nemo adalah salah satu jenis ikan hias yang paling banyak diminati di kalangan penghobi ikan hias. Dapat dikatakan ikan jenis ini memiliki pangsa pasar yang luar baik itu dalam ataupun luar negeri.

Salah satu penggemar dan penjual ikan hias Ambon, Doni mengatakan, pasar ikan nemo memang lebih stabil, begitu pun dengan harganya di pasaran.

“Keberhasilan BPBL Ambon dalam mengintroduksi berbagai varian jenis ikan nemo hasil budidaya, membawa angin segar bagi bisnis ikan hias nasional. Sebagai gambaran saja perputaran uang dari bisnis ikan hias di Ambon mencapai tidak kurang dari Rp1 miliar per tahun,” tambah Doni.

Sementara itu, Kepala BPBL Ambon, Tinggal Hermawan mengatakan, pengembangan ikan hias yang dilakukan berbasis pada tren preferensi pasar. “Untuk kepentingan bisnis, pengembangan kami fokus pada market oriented” ujarnya.

Saat ini, BPBL Ambon telah memiliki koleksi berbagai macam jenis induk dan calon induk dari berbagai lokasi yang memiliki kekhasan masing-masing. Cross breeding dilakukan untuk menghasilkan varian jenis yang diminati pangsa pasar.

Adapun ke-14 varian jenis ikan nemo yang telah berhasil dikembangkan yakni jenis biak biasa, halfblack, fullblack, black proton, platinum, picasso, snow flake, frostbite, black ice, lightening maroon, black snowflake, balong padang, pellet orange, dan pellet pink.

“Semua varian ini punya segmen pasar tersendiri dan memiliki nilai jual yang beragam. Yang nilai jualnya paling rendah yakni jenis pellet orange dan pellet pink dengan harga Rp8.000 per ekor, sedang yang paling mahal dapat  mencapai kisaran Rp500.000 – Rp1 juta per ekor, yakni untuk jenis lightening maroon,” tandasnya. (Irna Prihandini/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments