BPBL Ambon Beri Bantuan Benih Kakap Bagi Pokdakan Pinrang

150
Bibit kakap putih. Dok. Republika

KKPNews, Pinrang – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) memberikan bantuan benih kepada kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Selasa (20/3). Bantuan berupa 100.000 ekor benih kakap putih berukuran 2 cm tersebut diberikan dlaam rangka upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya.

Penyerahan bantuan dilakuykan di Dinas Perikanan Kabupaten Pinrang kepada 4 Pokdakan. Keempat Pokdakan tersebut yaitu Pokdakan Sipulung, Salopokko Kecamatan Lanrisang, Pokdakan Ingin Maju II Kecamatan Mattiro Sompe, dan Pokdakan Pammase Kecamatan Duampanua.

Bantuan tersebut diserahkan Kepala BPBL Ambon diwakili oleh Kasi Pengujian dan Dukungan Teknis, Doortje A. Horhoruw bersama Pengawas Perikanan Muda Bidang Pembudidayaan Ikan BPBL Ambon, Umar Rifai. Sementara Kepala Dinas Perikanan Pinrang yang menerima diwakili oleh Kepala Bidang SDM Perikanan Budidaya.

Bantuan tersebut diserahkan ke masing-masing pengurus kelompok untuk ditebar di masing-masing lokasi tambak kelompok.

Kelompok penerima bantuan benih ikan kakap tersebut berlatar belakang pembudidaya tambak sistem tradisional dengan mengandalkan komoditi udang windu dan ikan bandeng. Pembudidaya tambak di kabupaten Pinrang sebagian besar mengelola tambaknya secara tradisional dengan sistem polikultur (campuran) antara udang windu dengan ikan bandeng. Selain udang windu dan bandeng, ada beberapa jenis ikan lain sebagai hasil ikutan seperti mujair, bandeng laki, ikan kakap, dan lainnya. Dari sekian macam hasil sampingan ternyata ikan kakap menjadi incaran utama pedagang.

“Biasanya ikan kakap ikut ditangkap ketika kita sedang panen bandeng menggunakan jaring,” kata Zainuddin, Ketua Pokdakan Salopokko Desa Waetuoe Kecamatan Lanrisang, Pinrang.

Zainuddin menjelaskan, ikan kakap merupakan ikan predator karena dapat memangsa ikan-ikan kecil dan udang secara hidup-hidup yang ada dalam lingkungannya. Bila dikelola dengan baik polikultur kakap dengan udang windu akan sangat menguntungkan.

“Agar kakap tidak memangsa udang maka kita lebih awal tebar udangnya daripada ikan kakapnya,” kata Zainuddin. Namun yang menjadi alasan belum dibudidayakannya ikan kakap selama ini adalah belum tersedianya benih secara kontinyu. Untuk mengatasi kendala ketersediaan benih tersebut maka Pokdakan mengajukan proposal bantuan benih ikan kepada Dinas Perikanan kabupaten Pinrang.

Syarat lokasi tambak, konstruksi dan parameter kualitas air untuk budidaya kakap putih tidak menjadi masalah. Sebab selama ini kakap putih banyak ditangkap petambak saat panen bandeng. Demikian juga persiapan tambak seperti halnya yang telah dilakukan pembudidaya selama ini. Dari mulai pengeringan, pengapuran, pemupukan dasar, pemasukan air, penumbuhan makanan alami hingga tebar benih.

Agar tidak menjadi hama bagi udang windu maka kita lebih awal tebar benur udang windu sebanyak 20.000 ekor/ha. Sebulan kemudian dilakukan penebaran benih ikan kakap sebanyak 1.000 ekor/ha. Memasuki umur 2 bulan udang windu mulai panen selektif size 40-60 ekor/kg. Pada saat ikan kakap umur 2 bulan sudah bisa memakan benih-benih ikan mujair sebagai pakan alaminya.

*dilansir dari Jitunews / AFN

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments