Lewat IPF ke-7, Pemerintah Kenalkan ISSP kepada Masyarakat Indonesia

51
Fashion show mutiara laut selatan Indonesia pada pembukaan IPF ke-7 di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (7/11). Dok. Humas KKP/Regina Safri

KKPNews, Jakarta – Kegiatan 7th Indonesia Pearl Festival (IPF ke-7) yang diselenggarakan di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, resmi dibuka pada Selasa (7/11). Pada kegiatan yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (DWP KKP) bersama Direktorat Jenderal Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) dan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) tersebut akan dipamerkan berbagai Indonesian South Sea Pearl (ISSP).

Direktur Jenderal PDSPKP Nilanto Perbowo mengatakan, IPF ke-7 diselenggarakan untuk beberapa tujuan, yaitu mempromosikan dan mengenalkan ISSP kepada masyarakat; membangun international branding ISSP promosi dan pemasaran; memperluas jaringan bisnis dan pemasaran ISSP; dan mendapatkan umpan balik trend pasar mutiara dan produk turunannya.

“Kita mendorong agar masyarakat dalam negeri, masyarakat lokal, masyarakat Indonesia untuk mengenal bahwa ternyata mutiara ini diproduksi di Indonesia. Kalau sudah mengenal kita produsen utama mutiara laut selatan, harapannya masyarakat sadar kenapa harus pergi ke luar negeri untuk beli,” ujar Nilanto usai pembukaan IPF ke-7.

Nilanto juga menambahkan, dalam kegiatan IPF ini masyarakat dari berbagai kalangan tanpa terkecuali dapat berkonsultasi bagaimana proses lahirnya mutiara dari awal budidaya hingga panen. Masyarakat juga bisa memperoleh informasi bagaimana membedakan mutiara air laut, mutiara air tawar, dan mutiara yang palsu.

“Di sinilah tempat terbaik untuk mendapatkan mutiara laut selatan Indonesia yang asli. Kita pastikan bahwa seluruh vendor telah memberikan garansi bahwa semua mutiara yang dibawa di sini adalah mutiara laut asli Indonesia,” imbuhnya.

Nilanto mengungkapkan, budidaya mutiara memiliki tantangan yang cukup berat. Menurutnya, budidaya mutiara membutuhkan laut yang tenang, terhindar dari pencemaran, tidak ada sendimentasi, kualitas air stabil, dan tidak ada sampah. Oleh karena itu, usaha budidaya mutiara membutuhkan teknologi tinggi dan padat modal untuk dapat berhasil dalam kegiatan produksi.

“Jadi hanya yang mempunyai modal kuat, terus menerus, yang bisa survive untuk melakukan usaha ini. Oleh sebab itu, pasar mutiara Indonesia sangat spesifik, berbeda dari komoditas perhiasan lainnya,” tambah Nilanto.

Pada rangkaian acara IPF ke-7 tersebut turut hadir Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, Duta Besar Myanmar, perwakilan Kedutaan Qatar, dan perwakilan Kedutaan Australia.

Sandiaga Uno yang hadir pada kegiatan tersebut memberikan apresiasi atas terselenggaranya IPF ke-7 ini. “Kita berharap lebih bagus lagi industri mutiara di Indonesia. Kalau soal desain kita enggak kalah. Dan kalau bisa kita juga bekerja sama semua bersatu berkolaborasi, tidak bisa KKP sendiri,” tutur Sandiaga saat memantau booth-booth mutiara.

Rangkaian kegiatan IPF ke-7 juga dilengkapi dengan Lomba Desain Mutiara bagi peserta dari sekolah desain menengah maupun universitas, pameran mutiara, fashion show mutiara, dan berbagai kegiatan lainnya. Pada acara pembukaan IPF ke-7 juga dilakukan launching Charity Fundraising Program, pengumuman dan penyerahan hadiah pemenang lomba, serta pertunjukan seni tari dari Papua.

Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan animo dan menjadi edukasi masyarakat mengenai ISSP, dan meningkatkan sinergitas antarinstansi serta pemangku kebijakan untuk bersama-sama mempromosikan mutiara Indonesia di pasar dunia. Pada IPF ke-7 ini ditargetkan terjadi transaksi penjualan sebesar Rp20 miliar. (AFN)

baca juga: IPF Ke-7, Kenalkan Pesona Mutiara Laut Selatan Indonesia pada Dunia

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments