Download

IMG-20160128-WA0013
sipdik
karant
MEA

NEWS FEED

KKPNews, Jakarta - Regional Plan of Action to Promote Responsible Fishing Practices including Combating IUU Fishing in the Southeast Asia Region (RPOA-IUU) yang disepakati oleh...

KKPNews, Semarang - Universitas Diponegoro akan memberikan gelar doctor honoris causa kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada Sabtu 3 Desember 2016. Menteri...

KKPNews, Semarang - Kinerja Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dinilai telah memberikan banyak kisah inspiratif dan prestasi. Kini, menteri yang dulu hanya lulusan...

KKPNews, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) mengembangkan pemanfaatan model bio-ekonomi untuk pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Saat ini, model bio-ekonomi sedang dikembangkan pada tuna cakalang yang ada di Indonesia. Untuk selanjutnya yaitu pada Januari 2017 akan dikembangkan model bio-ekonomi pada ikan kakap merah. Peneliti di Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Balitbang KP Umi Mu’awanah mengungkapkan, studi ini menilai dampak ekonomi dan konservasi kebijakan pemberantasan Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing di Indonesia. Menurutnya, kebijakan pemberantasan IUU Fishing yang dikeluarkan dalam dua tahun terakhir membuat kapal dengan kapasitas > 30 Gross Tone (GT) yang sebagian besar merupakan kapal asing jauh berkurang. “Moratorium pada armada internasional mengurangi jumlah kapal nelayan > 30 GT   sebesar 27%. Dari 4.286 kapal yang terdaftar di KKP menjadi sebanyak 3114. Tekanan berkurang terutama yang berasal dari kapal besar > 100 GT dan mengurangi upaya (E) 40%,” ujar Umi. Lebih lanjut Umi menjelaskan bahwa kebijakan pemberantasan IUU Fishing tidak hanya bermanfaat pada peningkatan kondisi sumber daya ikan, tetapi juga untuk job and food security, kesehatan ekosistem, pelanggaran HAM, illegal trade, smuggling, dan human traficking. Terkait dengan kebijakan investasi, Umi mengungkapkan pengayaan sumber daya ikan harus dimanfaatkan dengan kebijakan peningkatan investasi lokal, termasuk untuk kapal-kapal besar dengan jelajah luas. “Kebijakan investasi harus diikuti dengan penguatan instrumen kebijakan rezim pengelolaan berkelanjutan atau optimal yang ketat, serta governance yang kuat,” tutup Umi. (RA)

KKPNews, Brondong - Untuk melengkapi kegiatan belajar mata kuliah Metode Penangkapan Ikan,sekitar  244 mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, Jurusan Manajemen...

KKPNews, Padang - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Satuan Kerja Direktorat Pemantauan dan Peningkatan Infrastruktur, Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP)...

KKPNews, Bitung - Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan wawasan Taruna Tingkat III program studi Teknik Penangkapan Ikan pada mata kuliah Manajemen Pelabuhan Perikanan, Politeknik Kelautan...

KKPNews, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi resmi menandatangani kerja sama Penguatan Armada Kapal Perikanan Nasional...

KKPNews, Makassar - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meresmikan Pelabuhan Perikanan Untia di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (26/11). Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa Pelabuhan Perikanan Untia dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produksi perikanan di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar. “Hari ini akan kita resmikan Pelabuhan Untia di Makassar. Jadi dengan adanya Pelabuhan Untia ini, memberikan solusi untuk meningkatkan produksi perikanan di Sulsel, khususnya di Makassar karena lokasinya sangat strategis, dekat dengan pelabuhan umum untuk ekspor,” ujar Presiden Jokowi. Presiden Jokowi mengungkapkan, Pelabuhan Perikanan Untia nantinya akan dijadikan sebagai sentra produksi perikanan. Hal ini karena potensi perikanan di wilayah Sulawesi Selatan termasuk besar dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia. “Target ekspor perikanan Sulsel sangat besar, 10% dari total ekspor nasional. Pengembangan Pelabuhan Untia ini diharapkan akan menjadi sentra produksi perikanan yang terhubung dengan pelabuhan perikanan lainnya,” ujar Presiden Jokowi. Untuk menjadikan Pelabuhan Perikanan Untia sebagai sentra produksi perikanan, lanjut Presiden Jokowi, pelayanan yang diberikan di pelabuhan ini juga harus baik. Presiden Jokowi menegaskan tidak boleh adanya pungutan liar (pungli) di pelabuhan ini. “Saya minta pelayanan di Pelabuhan Untia terus dijaga. Dan hati-hati, jangan ada pungli di sini. Itu tidak boleh. Jangan sampai di pelabuhan baru ini ada pungli. Kalau ada pungli, segera laporkan ke Tim Sapu Bersih Pungli. Semoga semua mendapat pelayanan yang baik,” tutup Presiden Jokowi. (RA)

KKPNews, Makassar - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendampingi Presiden Joko Widodo untuk meresmikan Pelabuhan Perikanan Untia di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (26/11). Menteri Susi mengungkapkan, kunjungannya ke Pelabuhan Perikanan Untia bukan hanya untuk meresmikan pelabuhan tersebut, tetapi juga untuk melihat perkembangan industri perikanan yang menjadi salah satu visi utama pemerintah dalam hal percepatan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan. “Kita hari ini ada di Untia untuk melihat persiapan pengembangan industri perikanan, sesuai Inpres No. 7 tentang percepatan pembangunan. Kita segerakan supaya nelayan-nelayan di wilayah yang padat bisa bergeser ke mari dan kita juga mengundang buyer dari luar negeri untuk masuk ke sini. Ini juga mengantisipasi kenaikan tangkap yang melimpah dan rencana pemerintah untuk merevitalisasi industri perikanan tangkap nelayan Indonesia,” jelas Susi. Sebanyak 1790 kapal yang menjadi target bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), lanjut Menteri Susi, akan terdistribusikan pada Desember tahun ini. Sementara itu, sebanyak 500 kapal sudah terdistribusi pada bulan November 2016. Dalam sambutannya, Menteri Susi memuji masyarakat Sulawesi Selatan sebagai nelayan hebat dan pelaut handal. Namun, Menteri Susi juga memberikan beberapa pesan untuk masyarakat Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai suku maritim itu. Menteri Susi mengungkapkan, masih ada beberapa nelayan di Sulawesi Selatan yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan, seperti bom dan bius, untuk menangkap ikan. Hal ini menurut Menteri Susi dapat mengganggu keberlanjutan laut Indonesia. “Mereka ini pelaut handal, mereka luar biasa. Hanya saya berpesan, mohon mulai hari ini orang Sulawesi menjadi nelayan yang baik. Jangan kotori kehebatan orang bugis sebagai suku maritim, pendekar bahari. Jadi saya mohon jangan lagi pakai alat tangkap yang tidak ramah lingkungan,” tegas Menteri Susi. (RA)

KKPNews, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) meneliti bakteri Brevibacillus thermoruber sebagai penghasil...
PENGUMUMAN LOMBA BLOG FINAL WITH PROLOG

RADIO ONLINE

STAY CONNECTED

1,127FansLike
2,789FollowersFollow

Infografis

IMG-20160128-WA0013